Pagi ini dari Cirebon, kami terus bergerak ke arah matahari terbit. Di sepanjang jalan, Ibu nunjukin hal-hal baru ke Gede, misalnya panen bawang di Brebes (aku khan suka sekali bawang goreng).
Awalnya, sesuai peta, Bapak berencana di daerah Weleri belok ke selatan, tidak usah ke Semarang, supaya lebih cepat sampai ke Ambarawa. Tapi di tengah jalan, setelah lewat sebuah Pom Bensin (Subah), karena ada petunjuk jalan, bapak membelokkan mobil ke selatan, melewati jalanan desa yang menurut bapak bagus kondisinya. Alamnya indah sekali, melewati Limpung, Sukorejo, Ngadirejo, Parakan, hingga kota yang agak besar Temanggung dan akhirnya sampai di Ambarawa lewat tengah hari.

Oo....rupanya ini museum Kereta Api.
Kereta apinya sudah tua-tua sekali. Kata Bapak KA jaman Belanda. Kalau ingin naik yang masih bisa jalan, bayarnya mahal, 2 - 3 juta. Kalo rame-rame sich murah (kata bapak lho).
Akhirnya kita naik kereta api seperti yang banyak ada di taman-taman hiburan. Kata bapak, sebenarnya sich bukan kereta api, tapi lumayan seru. Perjalanannya ke arah Rawa Pening. Suatu danau yang ada wilayah sawah pasang surut. Kalau Gede cerita ke teman-teman atau Ibu Guru, pasti tidak percaya kalau tidak lihat sendiri, kalau panen padinya pakai perahu.

Yang juga lucu, sepanjang perjalanan, kalau melewati perlintasan dengan jalan raya, petugasnya teriak-teriak.
Setelah itu kita makan siang dan melanjutkan perjalanan ke arah Borobudur. Kami sampai di Borobudur menjelang malam. Setelah Ibu lihat-lihat beberapa penginapan yang ditunjukkin tukang ojek, akhirnya kita pilih penginapan yang persis di belakang Candi Borobudur.
(cerita tgl 21 Desember 2007)